ABSTRAK
Rahmat
Hidayat. 2006. "Peranan Pengetahuan
Agama dan Pengetahuan Seks Terhadap Penyimpangan Perilaku Seksual Mahasiswa”
(Studi Mahasiswa STAIN Curup Tahun Akademik 2005-2006)
Dalam
penelitian ini penulis mengajukan masalah yaitu bagaimana peranan antara
pengetahuan agama dan pengetahuan seks sebagai variabel bebas terhadap perilaku
seksual sebagai variabel terikat pada mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Curup.
Penelitian
ini adalah field research dengan
menggunakan metode kuantitatif dan untuk menganalisa data dilakukan dengan
pendekatan deskriptif. Populasinya adalah seluruh mahasiswa STAIN Curup Tahun
Akademik 2005-2006 yang berjumlah 823 subjek penelitian, sedangkan yang diambil
sebagai sampel sebanyak 10% dari populasi yaitu sebanyak 82 orang responden
dengan menggunakan teknik proportionate
stratifield random sampling
Dalam
pengumpulan data penulis menggunakan instrumen angket, kemudian data yang
diperoleh dinilai dengan memberikan skor, diolah dan dianalisa sehingga
diketahui kesimpulan akhir dari data yang diperoleh.
Setelah
data diolah kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus Koefisien Korelasi
Linier Berganda, maka dapat diambil kesimpulan bahwa antara pengetahuan agama
tidak memberikan sumbangan yang berarti terhadap penyimpangan perilaku seksual
mahasiswa STAIN Curup yaitu hanya sebesar 0.14% dan pengetahuan seks memberikan
sumbangan terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa STAIN Curup sebesar
3.60%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan agama dan
pengetahuan seks terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa STAIN Curup
yaitu sebesar 20% dan 80% dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain. Dilihat
dari berbagai faktor atau unsur-unsur yang berkontribusi terhadap penyimpangan
perilaku seksual mahasiswa STAIN Curup, maka kontribusi 20% cukup besar.
Sehubungan
dengan hasil penelitian yang didapat di lapangan maka penulis berpendapat
perlunya memberikan pendidikan seks dalam rangka peningkatan pengetahuan seks
remaja, karena dengan semakin banyaknya pendidikan seks yang diterima maka
fenomena penyimpangan perilaku seksual mahasiswa akan semakin teratasi. Dan
seharusnya seorang pendidik agama memberikan pengetahuan agama yang menyentuh
akar substansialnya, tidak hanya bersifat literal dan normatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar