Scrip Berjalan

Selasa, 08 Mei 2012

HUBUNGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KELUARGA TERHADAP KENAKALAN REMAJA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Hampir setiap orang dikenai pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dari kehidupan manusia. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya manakala anak-anak sudah dewasa dan berkeluarga. Begitu pula disekolah dan pergruan tinggi. Para siswa dan mahasiswa didik oleh guru dan dosennya. Pendidikan merupakan hak milik dan alat manusia.
Demikian juga dengan pendidikan agama Islam sangat erat sekali kaitannya dengan pendidikan pada umumnya. Pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan siswa terhadap Allah SWT. Tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan misi Islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlakul karimah. Adapun tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi. “Tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang dilakukan melalui proses pembinaan secara bertahap”.[1] Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam di nilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan di akherat.
Kehidupan manusia melalui beberapa tahap perkembangan di antaranya yaitu masa remaja. Remaja adalah bagian umur yang sangat banyak mengalami kesukaran dalam hidup manusia di mana remaja masih memiliki kejiwaan yang labil dan justru kelabilan jiwa ini mengganggu ketertiban yang merupakan tindakan kenakalan. Dalam perkembangan masa remaja adalah stadium dalam perkembangan siklus anak. “Rentangan masa remaja berada dalam usia 12-21 tahun bagi wanita, dan 13-22 tahun bagi laki-laki, bila dibagi atas remaja awal dan remaja akhir, maka masa remaja awal berada pada usia 12-17/18 tahun dan remaja akhir dalam rentang usia 17/18-21/22 tahun”. [2]
Dalam perkembangan hidupnya remaja dipengaruhi oleh dua faktor yaitu intern dan ekstern. Faktor intern berasal dari individu itu sendiri sedangkan faktor ekstern berasal dari luar individu. Kedua faktor tersebut yang kemudian akan membentuk kepribadian remaja.

Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja adalah kurangnya pendidikan agama dalam keluarga.[3]  Menerangkan bahwa keluarga yang dapat menjadi sebab timbulnya delinkuensi (kenakalan) dapat berupa keluarga yang tidak normal (broken home), keadaan ekonomi keluarga yang minim menimbulkan permasalahan yang kompleks sehingga akan mendorong anak-anak menjadi delinkuen. Di samping itu juga orang tua kurang memiliki bekal dan mendidik anak dan kurangnya pendidikan agama di dalamnya. Keluarga yang tidak menanamkan pendidikan anak sejek kecil, sehingga mereka tidak dapat memahami norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang sesuai dengan ajaran agama tidak dicontohkan orang tua kepada anak sejak kecil. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang dibentuk sejak lahir akan menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian anak. Apabila kepribadian dipenuhi oleh nilai agama, maka akan terhindarlah anak dari kelakukan-kelakuan yang tidak baik.
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental dalam kehidupan manusia.[4] Salah satu fungsi keluarga adalah fungsi religius. Fungsi religius berkaitan dengan kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya, mengenai kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Fungsi ini mengharuskan orang tua sebagai tokoh inti dan panutan dalam keluarga untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya.[5]
Manusia dalam menuju kedewasaannya memerlukan bermacam-macam proses yamg diperankan oleh bapak dan ibu dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan wadah yang pertama dan dasar bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Pengalaman empiris membuktikan bahwa institusi lain diluar keluarga tidak dapat menggantikan seluruhnya peran lembaga bahkan pada institusi non keluarga, seperti play group sangat mungkin adanya beberapa nilai yang negatif yang berpengaruh jelek bagi pembentukan dan pendidkan anak terutama pendidikan akhlak. Kesadaran orang tua akan peran dan tanggung jawabnya selaku pendidik pertama dan utama dalam keluarga sangat diperlukan. Tanggung jawab orang tua terhadap anak tampil dalam bentuk yang bermacam-macam. Konteknya dengan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan, maka orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Bagi anak orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai model seharusnya orang tua memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka.
Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia, sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua mampu melakukannya. Buktinya dalam kehidupan di masyarakat sering ditemukan anak-anak nakal dengan sikap dan perilaku yang tidak hanya terlibat dalam perkelahian, tetapi juga terlibat dalam pergaulan bebas, perjudian, pencurian, narkoba, dan sebagainya.
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, MTS Islamic Senter Curup merupakan salah satu sekolah yang berbasis agama. Namun apakah dengan pendidikan agama yang baik di sekolah saja mampu membentuk kepribadian yang baik pula terhadap anak kalau tidak diimbangi dengan pendidikan agama yang baik pula dalam keluarga. Menurut Syamsu Yusuf mengatakan bahwa:
"Apabila remaja kurang mendapatkan bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orang tua kurang memberikan kasih sayang dan berteman dengan kelompok sebaya yang kurang menghargai nilai-nilai agama, maka kondisi tersebut akan menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila seperti pergaulan bebas (free sex), minum-minuman keras, menghisap ganja dan menjadi trouble maker (penggangu ketertiban atau pembuat keonaran) dalam masyarakat".[6]

Keluarga adalah lingkungan yang pertama kali di kenal anak, berarti lingkungan ini yang terdekat dengan anak. Di sini peran orang tua sangat menonjol di bandingkan dengan yang lain. Orang tua memiliki dasar pemikiran yang berbeda, sehingga pemahaman dan pengetahuan tentang agama sering menjadi benturan dalam memberikan bekal aqidah yang kuat bagi anak. Orang tua juga mempunyai kebutuhan lain yang harus di penuhi yang juga menyita waktunya sehingga mereka hanya mempunyai waktu yang terbatas untuk membekali anaknya tentang pendidikan moral dan agama. Hal itu merupakan salah satu alasan mengapa orang tua menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah Islam. Orang tua pasti menginginkan agar anaknya kelak menjadi anak yang baik.
Berbagai macam cara dan usahapun mereka lakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut, antara lain yaitu memberikan bimbingan dan pengarahan tentang agama dengan baik sejak kecil, mengawasi pergaulan anak dengan teman sebaya, memasukkan anak ke dalam sekolah yang mengajarkan pendidikan agama lebih banyak. Salah satu contoh orang tua memasukkan anak mereka di Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup, mereka beranggapan bahwa sekolah Islam mampu memberikan pendidikan agama yang optimal sehingga dapat membentuk anak menjadi pribadi yang baik dan bermoral. Di samping mengajarkan tentang pendidikan agama yang lebih sekolah Islam juga mengajarkan tentang pendidikan umum.
Menurut pengamatan sementara penulis, terlihat bahwa di Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup ada beberapa tindakan/kelakuan siswa yang bisa di kategorikan dalam kenakalan anak/remaja, meskipun prosentasenya dalam kelompok sedikit.
Berdasarkan pengamatan sementara itulah penulis ingin mengetahui lebih dalam tentang bagaimana pendidikan agama mereka baik di sekolah maupun dalam keluaga, juga hubungannya dengan kenakalan di Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup. Untuk itu penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul "Hubungan Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja (Studi Kasus Siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010".
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pendidikan agama yang diperoleh dalam keluarga dan kenakalan remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010?
2.      Adakah hubungan antara pendidikan agama dalam keluarga dengan kenakalan remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010?

C.    Batasan Masalah
Mengingat luasnya bahasan dalam penelitian ini, maka penulis perlu membatasi masahnya. Masalah yang akan diteliti pada penelitian ini pada hubungan antara pendidikan agama islam dalam keluarga dengan kenakalan remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010.

D.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dilihat dari permasalahan yang ada adalah sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui pendidikan agama dalam kaluarga dan kenakalan remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010.
b.      Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan agama dalam keluarga dengan kenakalan remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010.

E.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik teoritis maupun praktis, antara lain:
a.       Manfaat Teoritis:
1)      Menambah pengetahuan/wawasan bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.
2)      Untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang pendidikan.
b.      Manfaat praktis
1)      Memberikan masukan kepada remaja agar berhati-hati sehingga tidak terjerumus pada tindakan-tindakan yang melanggar hukum atau agama.
2)      Pertimbangan bagi orang tua, guru dan sekolah dalam menanamkan pendidikan agama.
3)      Memberikan masukan bagi guru, orang tua dan sekolah dalam menangani masalah kenakalan remaja.


F.     Hopotesis Penelitian
Hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya. Penganalisaan penelitian ini menggunakan rumus statistik, maka adau dua macam hipotesis yang diajukan untuk diuji kebenarannya. Kedua hipotesis tersebut adalah:
1.      Ha = Hipotesis kerja atau hipotesis alternatif yaitu hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang relevan dengan masalah penelitian dan belum berdasarkan fakta serta dukungan data yang nyata di lapangan. Dalam penelitian ini hipotesis kerjanya adalah adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan agama Islam dalam keluarga terhadap kenakalan remaja siswa Madarasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup.
2.      Ho = Hipotesis nol atau hipotesis nilai yaitu pernyataan tidak adanya hubungan, pengaruh, atau perbedaan antara parameter dengan statistik. Dalam penelitian ini hipotesis nolnya adalah tidak adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan agama Islam dalam keluarga terhadap kenakalan remaja siswa Madarasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup.




G.    Sistematika penulisan
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan membahas masalah-masalah yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Adapun sistematika penulisan skripsi meliputi lima bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis, dan sistematika pembahasan.
BAB II      PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA DAN KENAKALAN REMAJA, akan membahas tentang pengertian pendidikan agama Islam dalam keluarga, fungsi pendidikan Islam dalam keluarga, tujuan pendidikan agama Islam dalam keluarga, pelaku pendidikan agama Islam dalam keluarga, materi pendidikan agama Islam dalam keluarga, dan metode pendidikan agama Islam dalam keluarga. Dan kenakalan remaja membahas tentang perkembangan remaja, pengertian kenakalan remaja, bentuk-bentuk kenakalan remaja, faktor penyebab kenakalan remaja, usaha pencegahan terhadap timbulnya kenakalan remaja.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN yang berisikan tentang pendekatan penelitian, populasi dan sampel penelitian, jenis dan sumber data, instrumen penelitian, teknik analisis data, variabel dan indikator penelitian, dan definisi operasional.
BAB IV    ANALISA DAN PEMBAHASAN, akan membahas tentang menganalisa data yang terkumpul sehingga diketahui tentang pendidikan agama dalam keluarga dan kenakalan remaja siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010.
BAB V      PENUTUP, akan membahas tentang kesimpulan dan saran-saran


[1] Muhaimin, Paradigma pendidikan Islam (Upaya Mengefektifikan Pendidikan Agama Islam di Sekolah), Remaja Rosdakarya, Bandung: 2002, Hal. 78
[2] Saipul Bahri Jamara, Psikologi Belajar. Rineka Cipta, Jakarta, 2002, Hal. 106-107
[3] Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Bina Aksara, Jakarta: 2004, Hal. 125
[4] Abu Ahmadi, Ilmu Sosial  Dasar, PT Rineka Cipta, Jakarta: 1991, Hal. 104 
[5] Ibid., Hal. 106
[6]Syamsu Yunus LN. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Rosda Karya, Bandung: 2001, Hal. 205









Tidak ada komentar:

Posting Komentar