BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Hampir setiap orang dikenai pendidikan.
Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dari kehidupan manusia. Anak-anak
menerima pendidikan dari orang tuanya manakala anak-anak sudah dewasa dan
berkeluarga. Begitu pula disekolah dan pergruan tinggi. Para
siswa dan mahasiswa didik oleh guru dan dosennya. Pendidikan merupakan hak
milik dan alat manusia.
Demikian juga dengan pendidikan agama Islam
sangat erat sekali kaitannya dengan pendidikan pada umumnya. Pendidikan Islam bertujuan
untuk meningkatkan ketaqwaan siswa terhadap Allah SWT. Tujuan pendidikan Islam
yang sejalan dengan misi Islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga
mencapai akhlakul karimah. Adapun tujuan utama dari pendidikan Islam adalah
pembentukan akhlak yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, jiwa
yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi.
“Tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang dilakukan melalui
proses pembinaan secara bertahap”.[1]
Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam di nilai sebagai faktor kunci
dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan Islam berfungsi
menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia
dan di akherat.
Kehidupan manusia melalui beberapa tahap
perkembangan di antaranya yaitu masa remaja. Remaja adalah bagian umur yang
sangat banyak mengalami kesukaran dalam hidup manusia di mana remaja masih
memiliki kejiwaan yang labil dan justru kelabilan jiwa ini mengganggu ketertiban
yang merupakan tindakan kenakalan. Dalam perkembangan masa remaja adalah
stadium dalam perkembangan siklus anak. “Rentangan masa remaja berada dalam
usia 12-21 tahun bagi wanita, dan 13-22 tahun bagi laki-laki, bila dibagi atas
remaja awal dan remaja akhir, maka masa remaja awal berada pada usia 12-17/18
tahun dan remaja akhir dalam rentang usia 17/18-21/22 tahun”. [2]
Dalam perkembangan hidupnya remaja
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu intern dan ekstern. Faktor intern berasal
dari individu itu sendiri sedangkan faktor ekstern berasal dari
luar individu. Kedua faktor tersebut yang kemudian akan membentuk kepribadian
remaja.
Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya
kenakalan remaja adalah kurangnya pendidikan agama dalam keluarga.[3] Menerangkan bahwa keluarga yang dapat menjadi
sebab timbulnya delinkuensi
(kenakalan) dapat berupa keluarga yang tidak normal (broken home),
keadaan ekonomi keluarga yang minim menimbulkan permasalahan yang kompleks
sehingga akan mendorong anak-anak menjadi delinkuen. Di samping itu juga
orang tua kurang memiliki bekal dan mendidik anak dan kurangnya pendidikan
agama di dalamnya. Keluarga yang tidak menanamkan pendidikan anak sejek kecil,
sehingga mereka tidak dapat memahami norma-norma yang berlaku
dalam masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang sesuai dengan ajaran agama
tidak dicontohkan orang tua kepada anak sejak kecil. Kebiasaan-kebiasaan yang
baik yang dibentuk sejak lahir akan menjadi dasar pokok dalam pembentukan
kepribadian anak. Apabila kepribadian dipenuhi oleh nilai agama, maka akan
terhindarlah anak dari kelakukan-kelakuan yang tidak baik.
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di
dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental dalam
kehidupan manusia.[4] Salah
satu fungsi keluarga adalah fungsi religius. Fungsi religius berkaitan dengan
kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan
melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya, mengenai kaidah-kaidah agama
dan perilaku keagamaan. Fungsi ini mengharuskan orang tua sebagai tokoh inti
dan panutan dalam keluarga untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan
keluarganya.[5]
Manusia dalam menuju kedewasaannya
memerlukan bermacam-macam proses yamg diperankan oleh bapak dan ibu dalam
lingkungan keluarga. Keluarga merupakan wadah yang pertama dan dasar bagi
perkembangan dan pertumbuhan anak. Pengalaman empiris membuktikan bahwa
institusi lain diluar keluarga tidak dapat menggantikan seluruhnya peran
lembaga bahkan pada institusi non keluarga, seperti play group sangat mungkin
adanya beberapa nilai yang negatif yang berpengaruh jelek bagi pembentukan dan
pendidkan anak terutama pendidikan akhlak. Kesadaran orang tua akan peran dan
tanggung jawabnya selaku pendidik pertama dan utama dalam keluarga sangat
diperlukan. Tanggung jawab orang tua terhadap anak tampil dalam bentuk yang
bermacam-macam. Konteknya dengan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan,
maka orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Bagi anak
orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai
model seharusnya orang tua memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam
keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia.
Oleh karena itu Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu
yang baik-baik saja kepada anak mereka.
Pembentukan budi pekerti yang baik adalah
tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah
tercermin pribadi yang mulia, sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi
yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun
sayangnya, tidak semua orang tua mampu melakukannya. Buktinya dalam kehidupan
di masyarakat sering ditemukan anak-anak nakal dengan sikap dan perilaku yang
tidak hanya terlibat dalam perkelahian, tetapi juga terlibat dalam pergaulan
bebas, perjudian, pencurian, narkoba, dan sebagainya.
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, MTS
Islamic Senter Curup merupakan salah satu sekolah yang berbasis agama. Namun
apakah dengan pendidikan agama yang baik di sekolah saja mampu membentuk
kepribadian yang baik pula terhadap anak kalau tidak diimbangi dengan
pendidikan agama yang baik pula dalam keluarga. Menurut Syamsu Yusuf mengatakan
bahwa:
"Apabila remaja kurang mendapatkan bimbingan keagamaan dalam
keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orang tua kurang memberikan
kasih sayang dan berteman dengan kelompok sebaya yang kurang menghargai
nilai-nilai agama, maka kondisi tersebut akan menjadi pemicu berkembangnya
sikap dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila seperti pergaulan bebas
(free sex), minum-minuman keras, menghisap ganja dan menjadi trouble maker (penggangu ketertiban
atau pembuat keonaran) dalam masyarakat".[6]
Keluarga adalah lingkungan yang pertama kali
di kenal anak, berarti lingkungan ini yang terdekat dengan anak. Di sini peran
orang tua sangat menonjol di bandingkan dengan yang lain. Orang tua memiliki
dasar pemikiran yang berbeda, sehingga pemahaman dan pengetahuan
tentang agama sering menjadi benturan dalam memberikan bekal aqidah yang kuat
bagi anak. Orang tua juga mempunyai kebutuhan lain yang harus di penuhi yang
juga menyita waktunya sehingga mereka hanya mempunyai waktu yang terbatas untuk
membekali anaknya tentang pendidikan moral dan agama. Hal itu merupakan salah
satu alasan mengapa orang tua menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah
Islam. Orang tua pasti menginginkan agar anaknya kelak menjadi anak yang baik.
Berbagai macam cara dan usahapun mereka lakukan
untuk mewujudkan keinginan tersebut, antara lain yaitu memberikan bimbingan dan
pengarahan tentang agama dengan baik sejak kecil, mengawasi pergaulan anak
dengan teman sebaya, memasukkan anak ke dalam sekolah yang mengajarkan
pendidikan agama lebih banyak. Salah satu contoh orang tua memasukkan anak
mereka di Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup, mereka beranggapan bahwa
sekolah Islam mampu memberikan pendidikan agama yang optimal sehingga dapat
membentuk anak menjadi pribadi yang baik dan bermoral. Di samping mengajarkan
tentang pendidikan agama yang lebih sekolah Islam juga mengajarkan tentang
pendidikan umum.
Menurut pengamatan sementara penulis,
terlihat bahwa di Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup ada beberapa
tindakan/kelakuan siswa yang bisa di kategorikan dalam kenakalan anak/remaja,
meskipun prosentasenya dalam kelompok sedikit.
Berdasarkan pengamatan sementara itulah
penulis ingin mengetahui lebih dalam tentang bagaimana pendidikan agama mereka
baik di sekolah maupun dalam keluaga, juga hubungannya dengan
kenakalan di Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup. Untuk itu penulis ingin
mengadakan penelitian dengan judul "Hubungan
Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja (Studi Kasus
Siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010".
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
pendidikan agama yang diperoleh dalam keluarga dan kenakalan remaja pada siswa Madrasah
Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010?
2.
Adakah
hubungan antara pendidikan agama dalam keluarga dengan kenakalan remaja pada
siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010?
C. Batasan
Masalah
Mengingat luasnya bahasan dalam penelitian
ini, maka penulis perlu membatasi masahnya. Masalah yang akan diteliti pada
penelitian ini pada hubungan antara pendidikan agama islam dalam keluarga
dengan kenakalan remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun
Pelajaran 2009/2010.
D. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini dilihat dari permasalahan yang ada adalah sebagai berikut:
a.
Untuk
mengetahui pendidikan agama dalam kaluarga dan kenakalan remaja pada siswa Madrasah
Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010.
b.
Untuk
mengetahui hubungan antara pendidikan agama dalam keluarga dengan kenakalan
remaja pada siswa Madrasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran
2009/2010.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat baik teoritis maupun praktis, antara lain:
a.
Manfaat
Teoritis:
1)
Menambah
pengetahuan/wawasan bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.
2)
Untuk
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang pendidikan.
b.
Manfaat
praktis
1)
Memberikan
masukan kepada remaja agar berhati-hati sehingga tidak terjerumus pada
tindakan-tindakan yang melanggar hukum atau agama.
3)
Memberikan
masukan bagi guru, orang tua dan sekolah dalam menangani masalah kenakalan
remaja.
F.
Hopotesis Penelitian
Hipotesis
merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji
kebenarannya. Penganalisaan penelitian ini menggunakan rumus statistik, maka
adau dua macam hipotesis yang diajukan untuk diuji kebenarannya. Kedua hipotesis tersebut adalah:
1. Ha = Hipotesis kerja
atau hipotesis alternatif yaitu hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab
permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang relevan dengan masalah
penelitian dan belum berdasarkan fakta serta dukungan data yang nyata di
lapangan. Dalam penelitian ini hipotesis kerjanya adalah adanya hubungan yang
signifikan antara pendidikan agama Islam dalam keluarga terhadap kenakalan
remaja siswa Madarasah Tsanawiyah Islamic Centre Curup.
2. Ho = Hipotesis nol
atau hipotesis nilai yaitu pernyataan tidak adanya hubungan, pengaruh, atau
perbedaan antara parameter dengan statistik. Dalam penelitian ini hipotesis
nolnya adalah tidak adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan agama
Islam dalam keluarga terhadap kenakalan remaja siswa Madarasah Tsanawiyah
Islamic Centre Curup.
G. Sistematika
penulisan
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan
membahas masalah-masalah yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Adapun
sistematika penulisan skripsi meliputi lima
bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN yang berisikan latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
hipotesis, dan sistematika pembahasan.
BAB II PENDIDIKAN
AGAMA DALAM KELUARGA DAN KENAKALAN REMAJA, akan membahas tentang pengertian
pendidikan agama Islam dalam keluarga, fungsi pendidikan Islam dalam keluarga,
tujuan pendidikan agama Islam dalam keluarga, pelaku pendidikan agama Islam
dalam keluarga, materi pendidikan agama Islam dalam keluarga, dan metode
pendidikan agama Islam dalam keluarga. Dan kenakalan remaja membahas tentang
perkembangan remaja, pengertian kenakalan remaja, bentuk-bentuk kenakalan
remaja, faktor penyebab kenakalan remaja, usaha pencegahan terhadap timbulnya
kenakalan remaja.
BAB III METODOLOGI
PENELITIAN yang berisikan tentang pendekatan penelitian, populasi dan sampel
penelitian, jenis dan sumber data, instrumen penelitian, teknik analisis data,
variabel dan indikator penelitian, dan definisi operasional.
BAB IV ANALISA
DAN PEMBAHASAN, akan membahas tentang menganalisa data yang terkumpul sehingga diketahui
tentang pendidikan agama dalam keluarga dan kenakalan remaja siswa Madrasah
Tsanawiyah Islamic Centre Curup Tahun Pelajaran 2009/2010.
BAB V PENUTUP,
akan membahas tentang kesimpulan dan saran-saran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar